Header Ads

test

Kapan Kita Berbakti Seperti Mereka?



Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib. Begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan tegas memerintahkan kita untuk berbakti kepada keduanya. Lalu bagaimana tentang gambaran kaum salaf dalam berbakti kepada orang tua? Berikut di antaranya.
(1). Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Dari Abu Murrah Maula Ummu Hani` binti Abu Thalib, bahwasanya ia pernah bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuju kampungnya di al-‘Aqiq. Apabila masuk halaman rumahnya ia berteriak: “‘Alaikissalam warahmatullahi wa barakatuhu, wahai bunda.” Ibunya pun menyambut: “Wa ‘alaikissalam wa rahmatullahi wa barakatuhu.”
Abu Hurairah berkata: “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku sewaktu kecil.” Ibunya berkata: “Demikian pula engkau wahai ananda, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan meridhaimu sebagaimana engkau berbakti kepadaku setelah dewasa.” (HR. al-Bukhari dial-Adab al-Mufrad, no. 14, al-Albani berkata: Hasan isnadnya)
Dan di antara bakti Abu Hurairah ra kepada ibunya adalah, antusias beliau agar ibunya dapat memeluk agama Islam, yang mana sebelumnya ibunya bergelimang dengan kesyirikan, dan doa beliau agar ibunya dicintai oleh kaum mukminin.
Ia bercerita: “Dahulu aku mengajak ibuku untuk masuk Islam ketika ia masih berbuat kesyirikan. Dan pada suatu hari aku mengajaknya, tapi ia berbicara tentang Rasulullah saw dengan ucapan yang aku benci, maka itu aku mendatangi Rasulullah saw sambil menangis.
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah mengajak ibuku untuk masuk Islam, namun ia enggan menerima ajakanku. Dan pada hari ini aku mengajaknya lagi, tapi dia malah berkata tentangmu dengan ucapan yang aku tidak sukai, maka itu doakanlah agar ibu Abu Hurairah mendapat hidayah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, bukakanlah pintu hidayah bagi ibu Abu Hurairah.”
Lalu aku keluar dengan senang hati lantaran doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika datang aku langsung mendekati pintu rumahku yang masih tertutup, dan ibuku mendengar suara langkah kakiku, ia berkata: “Tetaplah di situ,wahai Abu Hurairah.” Dan aku mendengar kucuran air. Ia melanjutkan: “Ternyata ibuku mandi, kemudian ia mengenakan baju kurung dan memakai jilbab, lalu membuka pintu. Ia berkata:”Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang hak kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”
Ia berkata: “Aku pun langsung kembali menemui Rasulullah sambil menangis karena saking bahagianya. Aku berkata: “Ya Rasulullah, kabar gembira bagimu, sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan Dia telah memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Lalu beliau memuji dan menyanjung Allah dan berkata dengan perkataan yang baik. Aku berkata lagi: “Wahai Rasulullah, memohonlah kepada Allah untuk menjadikan aku dan ibuku dicintai oleh hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjadikan mereka dicintai oleh kami.”
Maka beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini –yakni Abu Hurairah- dan ibunya dicintai oleh hamba-hamba-Mu yang beriman dan jadikanlah mereka dicintai olehnya.”
Tidaklah diciptakan seorang mukmin yang mendengar tentang diriku meskipun ia tidak melihatku kecuali ia pasti mencintaiku. (HR. Muslim no. 2491, dll.)
(2). Iyas bin Mu’awiyah rahimahullah
Tatkala ibunya meninggal dunia ia menangis. Seseorang bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab: “Sebelumnya aku mempunyai dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, dan sekarang salah satunya telah tertutup.”
(3). Abu Hanifah rahimahullah
Suatu ketika ibunda Abu Hanifah bersumpah dengan suatu sumpah lalu ia melanggarnya. Lalu ia meminta fatwa kepada Abu Hanifah dan beliaupun berfatwa untuknya.
Ibunya berkata: “Aku tidak ridha kecuali dengan fatwa Zur’ah al-Qash.” Kemudian Abu Hanifah membawa ibunya untuk menemui Zur’ah. Zur’ah berkata kepada Ibu Ahu Hanifah: “Apakah aku berfatwa untukmu, sedangkan engkau bersama ahli fikih kota Kufah (yakni Abu Hanifah)?!” Abu Hanifah berkata kepadanya: “Berilah fatwa kepadanya dengan demikian dan demikian.” Lalu Zur’ah memberi fatwa kepada ibunya dan akhirnya ia ridha dengan fatwa itu. Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah pernah berkata: “Aku pernah melihat Abu Hanifah membawa ibunya di atas keledai menuju majlis Umar bin Dzar sebab ia disuruh ibunya untuk bertanya sesuatu kepadanya.”
(4). Manshur bin al-Mu’tamar rahimahullah
Muhammad bin Bisyr as-Sulami rahimahullah pernah berkata: “Tidak ada seorang pun di kota Kufah yang lebih berbakti kepada ibunya dari pada Manshur bin al-Mu’tamar dan Abu Hanifah, dahulu Manshur biasa membelai rambut ibunya dan mengepangnya.”
(5). Ibnu Asakir rahimahullah
Imam Ibnu Asakir pernah ditanya perihal keterlambatannya ketika datang ke kota Asfahan, beliau menjawab:  “Ibuku tidak mengizinkanku.”
(6). Haywah bin Syuraih rahimahullah
Pernah pada suatu hari beliau duduk di majelis taklim untuk mengajar para hadirin, tatkala itu ibunya berkata: “Bangkit ya Haywah, beri makan ayam kita dengan gandum ini.” Lalu beliau berdiri dan meninggalkan taklim tersebut (untuk memberi makan ayam karena menaati perintah ibunya).
(7). Imam adz-Dzahabi rahimahullah
Beliau pernah bercerita tentang dirinya yang sedang belajar qiro’ah kepada gurunya, Syaikh al-Fadhili. Beliau berkata: “Ketika Syaikh al-Fadhili wafat, sementara aku belum menyelesaikan qiro`ahku, maka akupun sangat sedih. Tapi kemudian ada yang mengabarkan bahwa ada Abu Muhammad al-Makin al-Asmar yang tinggal di Iskandariyah, dan bahwasanya riwayat beliau lebih tinggi dari pada al-Fadhili, maka itu adz-Dzahabi berkata: “Aku lebih sedih dan menyesal lagi lantaran tidak bisa menemuinya, sebab ayahku tidak mengizinkanku untuk safar ke kota itu.” (Disarikan dari kitab Birr al-Walidain Adab wa Ahkam karya Khalid al-Kharraz dan Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi karya Abdul Aziz as-Sadhan)
https://abumusa81.wordpress.com/2012/10/20/kapan-kita-berbakti-seperti-mereka/

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.